Minggu, 18 November 2012

Dispnea (sesak napas).


Dispnea sering disebut sebagai sesak napas, napas pendek, breathlessness, atau shortness of breath. Dispnea adalah gejala subjektif berupa keinginan penderita untuk meningkatkan upaya mendapatkan udara pernapasan. Karena sifatnya subjektif, dispnea tidak dapat diukur (namun terdapat gradasi sesak napas). Bagaimana rasanya mengalami dispnea? Rasa dispnea buatan bisa didapat jika kita menahan napas selama kurang lebih 45-60 detik, kemudian kita menarik napas, saat itu timbul perasaan yang disebut dyspneic, yaitu kemauan untuk menambah upaya bernapas. Begitu juga setelah melakukan kegiatan latihan berat (vigorous exercise), akan timbul perasaan dyspneic atau terengah-engah. Keluhan dispnea tidak selalu disebabkan karena penyakit; sering pula terjadi pada keadaan sehat tetapi terdapat stres psikologis.


Seperti halnya rasa nyeri, dispnea sebagai gejala sifatnya subjektif, tingkat keparahannya dipengaruhi oleh respon penderita, kepekaan (sensitivitas) serta kondisi emosi. Tingkatan dispnea dapat dirasakan sangat berbeda oleh masing-masing penderita walaupun sebetulnya kondisinya sama. Meskipun sifatnya subjektif, dispnea dapat ditentukan dengan melihat adanya upaya bernapas aktif dan upaya menghirup udara lebih banyak (labored and distressful breathing). Perlu diingat bahwa adanya peningkatan frekuensi napas yang ringan (mild), dalamnya tarikan napas, serta perubahan irama napas tidak selalu menunjukkan adanya dispnea.

Dispnea sebagai akibat peningkatan upaya untuk bernapas (work of breathing) dapat ditemui pada berbagai kondisi klinis penyakit. Penyebabnya adalah meningkatnya tahanan jalan napas seperti pada obstruksi jalan napas atas, asma, dan pada penyakit obstruksi kronik. Berkurangnya keteregangan paru yang disebabkan oleh fibrosis paru, kongesti, edema, dan pada penyakit parenkim paru dapat menyebabkan dispnea. Kongesti dan edema biasanya disebabkan oleh abnormalitas kerja jantung. Penyebab lainnya adalah pengurangan ekspansi paru seperti pada efusi pleura, pneumotoraks, kelemahan otot, dan deformitas rongga dada.

Dalam mengevaluasi dispnea, perlu diperhatikan keadaan ketika dispnea terjadi. Dispnea dapat terjadi pada perubahan posisi tubuh. Dispnea yang terjadi pada posisi berbaring disebut ortopneu, biasanya disebabkan karena gagal jantung. Ortopneu juga terjadi pada penyakit paru tahap lanjut dan paralisis diafragma bilateral. Platipneu adalah kebalikan dari ortopneu, yaitu dispnea yang terjadi pada posisi tegak dan akan membaik jika penderita dalam posisi berbaring; keadaan ini terjadi pada abnormalitas vaskularisasi paru seperti pada COPD berat. Disebut trepopneu jika dengan posisi bertumpu pada sebelah sisi, penderita dispnea dapat bernapas lebih enak; ditemui pada penyakit jantung (perubahan posisi menyebabkan perubahan ventilasi-perfusi). Paroxysmal nocturnal dyspnea (PND) adalah sesak napas yang teijadi tiba-tiba pada saat tengah malam setelah penderita tidur selama beberapa jam, biasanya terjadi pada penderita penyakit jantung. Exertional dyspnea adalah dispnea yang disebabkan karena melakukan aktivitas. Intensitas aktivitas dapat dijadikan ukuran beratnya gangguan napas, misal setelah berjalan 50 langkah atau setelah menaiki 4 anak tangga timbul sesak napas. Dispnea yang terjadi ketika berjalan di jalan datar, tingkatan gangguan napasnya lebih berat jika dibandingkan dengan dispnea yang timbul ketika naik tangga. Keluhan sesak napas juga dapat disebabkan oleh keadaan psikologis. Jika seseorang mengeluh sesak napas tetapi dalam exercise tidak timbul sesak napas maka dapat dipastikan keluhan sesak napasnya disebabkan oleh keadaan psikologis.

Penyebab dispnea secara umum:
  • Sistem kardiovaskular: gagal jantung
  • Sistem pernapasan: PPOK, Penyakit parenkim paru, Hipertensi pulmonal, kifoskoliosis berat, faktor mekanik di luar paru (asites, obesitas, efusi pleura)
  • Psikologis (kecemasan)
  • Hematologi (anemia kronik)

Penyebab dispnea akut: gagal jantung kiri, bronkospasme, emboli paru, kecemasan.

Pustaka
Respirologi Oleh DR. R. Darmanto Djojodibroto, Sp.P, FCCP



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar