Kamis, 22 November 2012

LP KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT


LAPORAN PENDAHULUAN KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT
 Dosen Pembimbing : Darmasta Maulana, S.Kep., M.Kes.





Disusun Oleh :
Ujang Farid Budiman      M11.01.0019


PROGRAM STUDI  ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATANMADANIYOGYAKARTA 2012
  




LAPORAN PENDAHULUAN

KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT


A.   Pengertian Cairan

Cairan adalah volume air bisa berupa kekurangan atau kelebihan air.  Air tubuh lebih banyak meningkat tonisitus adalah terminologi guna perbandingan osmolalitas dari salah satu cairan tubuh yang normal. Cairan tubuh terdiri dari cairan eksternal dan cairan internal. Volume cairan intrasel tidak dapat diukur secara langsung dengan prinsip difusi oleh karena tidak ada bahan yang hanya terdapat dalam cairan intrasel. Volume cairan intrasel dapat diketahui dengan mengurangi jumlah cairan ekternal, terdiri dari cairan tubuh total.
Cairan eksternal terdiri dari cairan tubuh total :
·         Cairan interstitiel: bagian cairan ekstra sel yang ada diluar pembulu darah.
·         Plasma darah
·         Cairan transeluler, cairan yang terdapat pada rongga khusus seperti dalam pleura,    perikardium, cairan sendi, cairan serebrospinalis.

Pertukaran cairan tubuh
1. Pemasukan :
Cairan tubuh sebagian besar berasal dari makanan dan minuman setiap hari dan sebagian kecil berasal dari proses oksidasi H2 dalam makanan.
2. Pengeluaran :
          Pengeluaran cairan terjadi melalui organ-organ seperti;
a. Ginjal
§  Merupakan pengatur utama keseimbangan cairan yang menerima 170 liter darah untuk disaring setiap hari.
§  Produksi urine untuk semua usia 1 ml/kg/jam.
§  Pada orang dewasa produksi urine sekitaar 1,5 liter/hari.
§  Jumlah urine yang diproduksi oleh ginjal dipengaruhi oleh ADH dan aldosteron.
b. Kulit
·         Hilangnya cairan melalui kulit diatur oleh saraf simpatis yang merangsang aktivitas kelenjar keringat.
·         Rangsangan kelenjar keringat dapat dihasilkan dari aktivitas otot, temperatur lingkungan meningkat dan demam.

c. Paru-paru
Meningkatnya cairan hilang sebagai respon terhadap perubahan kecepatan dan kedalaman napas akibat pergerakan atau demam.

d. Gastrointestinal
Dalam kondisi normal cairan yang hilang dari gastrointestinal setiap hari sekitar 100 – 1200 ml.

Gangguan keseimbangan cairan pada defisit cairan yaitu :
a.    Isotonis
Bila sel dimasukan kedalam suatu larutan tanpa menyebabkan sel membengkak atau mengkerut disebut larutan isotonis.
b.     Hipotonis
Larutan yang bila dimasukan kedalamnya akan menyebabkan sel menjadi       bengkak.
c.    Hipertonis
Larutan yang menyebabkan sel mengkerut jika dimasukan kedalam larutan tadi.

Masalah-masalah gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit

1.  Hipovolemik
Adalah suatu kondisi akibat kekurangan volume cairan ekstra seluler (CES) dan dapat terjadi karena kehilangan melalui kulit, ginjal, gastrointestinal, pendarahan sehingga menimbulkan syok hipovolemik. Mekanisme nya adalah peningkatan rangsangan saraf simpatis (peningkatan frekuensi jantung, kontraksi jantung dan tekanan vaskuler), rasa haus, pelepasan hormone ADH dan adosteron. Gejala: pusing, lemah, letih, anoreksia, mual muntah, rasa haus, gangguan mental, konstipasi dan oliguri, penurunan TD, HR meningkat, suhu meningkat, turgor kulit menurun, lidah terasa kering dan kasar, mukosa mulut  kering. Tanda-tanda penurunan berat badan dengan akut, mata  cekung, pengosongan vena jugularis. Pada bayi dan anak adanya penurunan jumlah air mata.

2.  Hipervolemi
Adalah penambahan/kelebihan volume CES dapat terjadi pada saat:
Ø  Stimulasi kronis ginjal untuk menahan natrium dan air.
Ø  Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi natrium dan air.
Ø  Kelebihan pemberian cairan.
Ø  Perpindahan cairan interstisial ke plasma.
Gejala: sesak napas, peningkatan dan penurunan TD, nadi kuat, asites, adema, adanya ronchi, kulit lembab, distensi vena leher, dan irama gallop.

Pengaturan keseimbangan cairan
a. Rasa dahaga
                    Mekanisme rasa dahaga :        
1.   Penurunan fungsi ginjal merangsang pelepasan renin, yang pada akhirnya   menimbulkan produksi angiotensin II yang dapat merangsang hipothalamus untuk melepaskaan substrat neural yang bertanggung jawab terhadap sensasi haus.
2.   Osmoreseptor dihipothalamus mendeteksi peningkatan osmotik dan mengaktivasi jaringan saraf yang dapat mengakibatkan sensasi rasa dahaga.
b. Antidiuretik Hormon
ADH dibentuk dihipofisis dan disimpan didalam neuro hipofisis dari hipofisis posterior stimulasi utaama untuk sekresi ADH adalah peningkatan osmolalitas dan penurunan cairan ekstra sel. Hormon ini meningkatkan reabsorbsi air pada ductus koligentes, dengan demikin dapat menghemat air.

c. Aldosteron
Hormon ini disekresi oleh kelenjaar adrenal yang bekerja pada tubulus ginjal untuk meningkatkan absorbsi natrium. Pelepasan aldosteron dirangsang oleh perubahan konsentrasi kalium natrium serum dan sistem angiotensin renin dan sangat efektif dalam mengendalikan hiperkalemia.

B. Pengertian Elektrolit

Elektrolit adalah substansi yanag menyebabkan ion kation (+) dan anion (-). Ada tiga cairan elektrolit yang paling esensial yaitu :

1. Kation (K ) fungsinya;
Untuk transmisi dan konduksi impuls saraf.
Kontraksi otot rangka, otot polos dan otot jantung.
2. Natrium (Na )
Kation utama dari pada cairan ekstra seluler juga dijumpai dalam pada dan jaringan.
Ø  Merupakan kation paling banyak yang terdapat pada cairan ekstra sel.
Ø  Natrium mempengaruhi keseimbangan air, hantaran impuls saraf dan kontraksi otot.
Ø  Sosdium diatur intake garam., aldosteron dan pengeluaran urine normalnya sekitar 135 dan 148 mEq / 1 liter



        3. Kalsium (Ca ), fungsinya :
Ø  Membanu aktifitas saraf dan otot normal.    
Ø  Meningkatkan kontrasi otot jantung.
Ø  Berguna untuk integritas kulit dan sel, konduksi jantung, pembekuan darah, serta pembentukan tulang-tulang dan gigi.
Gejala klinis kekurangan elektrolit:
Ø  Haus
Ø  Anoreksia
Ø  Perubahan tanda-tanda vital
Ø  Lemas atau pucat
Ø  Anak rewel
Ø  Kejang-kejang
Ø  Kulit dingin
Ø  Rasa malas
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan cairan elektrolit :
1.   Umur
Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan. Infant dan anak-anak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan dibanding usia dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan di karenakan gangguan fungsi ginjal ataw jantung.

2.   Iklim
      Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit melalui keringat. Sedangkan seseorang yang beraktifitas di lingkungan yang panas dapat kehilangan cairan sampai dengan 5 L per hari.


3.   Diet
Diet seseorag berpengaruh terhadap intake cairan dan elktrolit. Ketika intake nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga akan serum albumin dan cadangan protein akan menurun padahal keduanya sangat diperlukan dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan edema.

4.   Stress
      Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan pemecahan glykogen otot. Mrekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air sehingga bila berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah

5.   Kondisi sakit
Kondisi sakit sangat b3erpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan dan elektrolit misalnya:
Ø  Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui IWL.
Ø  Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
Ø  Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami ganguan             pemenuhan intake cairan karena kehilangan kemapuan untuk memenuhinya secara mandiri.

6.   Tindakan medis
Banyak tindakan medis akan berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh seperti: suction, NGT dan lain-lain.

7.   Pengobatan
Pengobatan seperti pemberian dueretik, laksative dapat berpengaruh pada kondisi cairan dan elektrolit tubuh.

8.   Pembedahan
pasien dengan tindakan pembedahan memiliki resiko tinggimengalami gangguan  keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh karena kehilangan darah selama pembedahan.

C.   Tujuan Pemberian Cairan
       Tujuan utama pemberian cairan adalah untuk mengganti defisit pra bedah,
selama pembedahan dan pasca bedah diamana saluran pencernaan belum berfungsi secara optimal disamping untuk pemenuhan kebutuhan normal harian. Terapi dinilai berhasil apabila pada penderita tidak ditemukan tanda-tanda hipovolemik dan hipoperfusi atautanda-tanda kelebihan cairan berupa edema paru dan gagal nafas.

D.   Fisiologi Cairan dan Elektrolit
Cairan dan substansi yang ada di dalamnya berpindah dari cairan interstitial masuk kedalam sel. Pembuluh darah kapiler dan membrane sel yang merupakan membran semipermiabel mampu memfilter tidak semua substansi dan komponen dalam cairan tubuh ikut berpindah. Metode perpindahan dari cairan dan elektrolit tubuh dengan beberapa cara yaitu:
1.   Difusi
Merupakan proses di mana partikel yang terdapat di dalam cairan bergerak dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah sampai terjadi keseimbangan. Cairan dan elektrolit di difusikan menembus membrane sel. Klecepatan difusi di pengaruhi oleh ukuran molekul, konsentarsi larutan dan temperature.


2.   Osmosis
Merupakan bergeraknya pelarut bersih seperti air, melaui membran semipermiabel dan larutan yang berkosentrasi lebih rendah ke kosentrsi yang lebih tinggi yang sifat nya menarik.
3.   Transport aktif
Partikel bergerak dari konsentrasi rendah ke lebih tinggi karena adanya daya aktif dari tubuh seperti pompa jantung.

E.   Kebutuhan Cairan Dan Elektrolit
No
Umur / BB (Kg)
Kebutuhan cairan (mL/24 jam)
1
3 hari, 30 kg
250-300
2
1 tahun, 9,5 kg
1150-1300
3
2 tahun, 11,8 kg
1350-1500
4
6 tahun, 20,0 kg
1800-2000
5
10 tahun, 28,7 kg
2000-2500
6
14 tahun, 45,0 kg
2200-2700
7
18 tahu, 54,0 kg
2200-2700

Volume cairan tubuh
Total jumlah volume cairan tubuh (total body water-TBW) kira-kira 60% dari berat badan pria dan 50% dari berat badan wanita. Jumlah volume ini tergantung pada kandungan lemak badan dan usia. Lemak jaringan sangat sedikit menyimpan cairan di mana lemak pada wanita lebih banyak dari pria sehingga jumlah volume cairan lebih rendah dari pria. Usia juga berpengaruh terhadap TBW di mana makin tua usia makin sedikit kandungan airnya. Contoh: bayi baru lahir TBW nya 70-80% dari BB, usia 1 tahun 60% dari BB, usia puberitas sampai dengan 39 tahun untuk pria 60% dari BB dan wanita 52% dari BB, usia 40-60 tahun untuk pria 55% dari BB dan wanita 47% dari BB, sedangkan pada usia di atas 60 tahun untuk pria 52% dari BB dan wanita 46% dari BB.

Penatalaksanaan :
1.  Penatalaksanaan medis utama diarahkan pada pengendalian atau pengobatan penyakit dasar. Obat-obatan tersebut misalnya; prednison yang dapat mengurangi beratnya diare dan penyakit.
2.  Untuk diare ringan cairan oral dengan segera ditingkatkan dan glukosa oral serta larutan elektrolit dapat diberikan untuk rehydrasi pasien.
3.  Untuk diare sedang, akibat sumber non infeksius, obat-obatan tidak spesifik seperti defenosiklat (lomotil) dan loperamit (imodium) juga diberikan untuk menurunkan motilitas.
4.  Preparat anti mikrobial diberikan bila preparat infeksius telah teridentifiksi atau bila diare sangat berat.
5.  Terapi cairan intra vena mungkin diperlukan untuk hydrasi cepat, khususnya untuk anak kecil dan lansia.

ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN


1.   IDENTITAS
Identitas pasien, mencakup:
·         Nama                         :
·         Alamat                       :
·         Umur                          :
·         Status                        :
·         Agama                       :
·         Suku bangsa/bangsa  :
·         Pendidikan                           :
·         Pekerjaan                            :
·         Tempat/tanggal lahir  :
·         No. CM                       :
·         Diagnose medis                   :
Identitas  penanggungjawab:
·         Nama                         :
·         Alamat                       :
·         Tempat/tanggal lahir  :
·         Status                        :
·         Agama                       :
·         Suku bangsa/bangsa  :
·         Pendidikan                           :
·         Pekerjaan                            :
·         Hubungan dangan pasien    :


2.   RIWAYAT KESEHATAN
a.   Keluhan Utama
Ø  Yang biasa dirasakan oleh pasien yang mengalami ganguan pemenuhan kebutuhan cairan ,lemas,pusing,mual
b.   Riwayat Penyakit Sekarang
Yang perlu dikaji tanyakan pada pasien,
Ø  Apakah pasien mengalami diare
Ø  Apakah pasien mual dan muntah
Ø  Apakah pasien mengalami ganguan defakasi
c.Riwayat Penyakit dahulu
Yang  perlu di kaji adalah
Ø  Tanyakan pada pasien apakah ia menderita gagal ginjal
Ø  Apakah pasien alergi terhadap makanan atau obat antibiotik
d.   Riwayat penyakit keluarga :
Ø  Penyakit apa yang pernah dialami keluarga dan adakah anggota keluarga yang meninggal, apa penyebab kematiannya.
e.   Riwayat Pekerjaan/ kebiasaan :
Ø  Situasi tempat kerja dan lingkungannya
Ø  Kebiasaan dalam pola hidup pasien
Ø  Kebiasaan merokok
f. Genogram
g.   Riwayat Kesehatan Lingkungan
Ø  Kaji dimana pasien tinggal,apakah ditempat tinggalnya ada  penyakit endemik dan wabah


3.   POLA FUNGSI KESEHATAN (GORDON)
a.    Persepsi terhadap kesehatan – manajemen kesehatan
b.    Pola aktivitas dan latihan
c.    Pola istirahat tidur
d.   Pola nutrisi -  metabolic
e.    Pola eliminasi
f.     Pola kognitif perceptual
g.   Pola konsep diri
h.   Pola koping
i.     Pola seksual – reproduksi
j.     Pola peran hubungan
k.    Pola nilai dan kepercayaan

  1. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik pada kebutuhan cairan dan elektrolit difokuskan pada:
1.   Integumen :
ü  Keadaan tugor kulit
ü  Edema
ü  Kelelahan
ü  Kelemahan otot
ü  Sensasi rasa
2.   Kardiovaskuler
Distensasi vena jugularis tekanan darah hemoglobin
3.   Mata
ü  Cekung
ü  Air mata kering
4.   Neurologi
ü  Reflek
ü  Gangguan motorik dan sensorik
ü  Tingkat kesadaran
5.   Gastrointestinal
ü  Keadaan mukosa mulut
ü  Muntah-muntah
ü  Bising usus

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
ü  Pemeriksaan elektrolit
ü  Darah lengkap
ü  Berat jenis urine
ü  Analisa gas darah

6.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosis keperawatan yang umum terjadi pada klien dengan resiko atau gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit adalah:
1.      Devisit volume cairan
2.      Kelebihan Volume Cairan


No. Dx
Nama Diagnosa
Tujuan /NOC
Intervensi / NIC
1
1.    Devisit volume cairan

·         Fluid balance
·         Hydration
·         Nutritional Status : Food and Fluid Intake
Kriteria Hasil :
   Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal
   Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal
   Tidak ada tanda tanda dehidrasi, Elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan

·         Fluid management
   Timbang popok/pembalut jika diperlukan
   Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
   Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik ), jika diperlukan
   Monitor hasil lAb yang sesuai dengan retensi cairan (BUN , Hmt , osmolalitas urin  )
   Monitor vital sign
   Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian
   Kolaborasi pemberian cairan IV
   Monitor status nutrisi
   Berikan cairan
   Berikan diuretik sesuai interuksi
   Berikan cairan IV pada suhu ruangan
   Dorong masukan oral
   Berikan penggantian nesogatrik sesuai output
   Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
   Tawarkan snack ( jus buah, buah segar )
   Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk
   Atur kemungkinan tranfusi
   Persiapan untuk tranfusi


2


2.      Kelebihan Volume Cairan

   Electrolit and acid base        balance
   Fluid balance
   Hydration

Kriteria Hasil:
  Terbebas dari edema, efusi, anaskara
  Bunyi nafas bersih, tidak ada dyspneu/ortopneu
  Terbebas dari distensi vena jugularis, reflek hepatojugular (+)
  Memelihara tekanan vena sentral, tekanan kapiler paru, output jantung dan vital sign dalam batas normal
  Terbebas dari kelelahan, kecemasan atau kebingungan
  Menjelaskanindikator kelebihan cairan


        Fluid management
  Timbang popok/pembalut jika diperlukan
  Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
  Pasang urin kateter jika diperlukan
  Monitor hasil lAb yang sesuai dengan retensi cairan (BUN , Hmt , osmolalitas urin  )
  Monitor status hemodinamik termasuk CVP, MAP, PAP, dan PCWP
  Monitor vital sign
  Monitor indikasi retensi / kelebihan cairan (cracles, CVP , edema, distensi vena leher, asites)
  Kaji lokasi dan luas edema
  Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian
  Monitor status nutrisi
  Berikan diuretik sesuai interuksi
  Batasi masukan cairan pada keadaan hiponatrermi dilusi dengan serum Na < 130 mEq/l
  Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul memburuk


·         Fluid Monitoring

  Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan eliminaSi
  Tentukan kemungkinan faktor resiko dari ketidak seimbangan cairan (Hipertermia, terapi diuretik, kelainan renal, gagal jantung, diaporesis, disfungsi hati, dll )
  Monitor berat badan
  Monitor serum dan elektrolit urine
  Monitor serum dan osmilalitas urine
  Monitor BP, HR, dan RR
  Monitor tekanan darah orthostatik dan perubahan irama jantung
  Monitor parameter hemodinamik infasif
  Catat secara akutar intake dan output
  Monitor adanya distensi leher, rinchi, eodem perifer dan penambahan BB
  Monitor tanda dan gejala dari odema
  Beri obat yang dapat meningkatkan output urin



  


Referensi

Docterman dan Bullechek. Nursing Invention Classifications (NIC), Edition 4, United States Of America: Mosby Elseveir Acadamic Press, 2004.
Nanda International (2009). Diagnosis Keperawatan: definisi & Klasifikasi.2009-2011. Penerbit buku kedokteran EGC : Jakarta
Maas, Morhead, Jhonson dan Swanson. Nursing Out Comes (NOC), United States Of America: Mosby Elseveir Acadamic Press, 2004.
Tarwoto & Wartonah. (2010). Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses Keperawatan. Edisi 4. Salemba Medika : Jakarta


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar